Secangkir Koffee Manis   Leave a comment

 

 

271. A Telenovela

Telenovela adalah ketika menimbang sesuatu dengan ketidakadilan takaran.  Satu bejana terisi perasaan, sisi lainnya dipenuhi sekumpulan emosi.  Semakin dicari akurasinya, semakin nyata kehilangannya.  Wajah penuh dengan serpihan ilusi, dan bias-bias keindahan berpendar entah kemana

Telenovela adalah ketika cinta ditanya hakekatnya!.  Sering absurd dan sengaja diabsurdkan!.  Hingga, ketika cinta menjawabpun, maka sesungguhnya cinta tak mengerti jawabannya!. Celaka!

 

 

272. diminishing satisfaction

secangkir kopi yang hangat, terasa nikmat. Secangkir kopi yang hangat terasa sangat nikmat! Secangkir kopi itu lalu menjadi hambar…..

aku ingin secangkir cokelat!

 

 

 

273. Fans Club

Menikamkan memori dalam pikiran; membawanya dalam laju hidup. Menyantapnya di meja makan dan menciptakan insomania!

Memberi segurat senyum dan mencurahkan gula pada secangkir kopi!.  Mentari tiba-tiba di depan jendela: dan hari ini kehidupan ada!

Selalulah demikian maknanya……

 

 

 

274. berguna, langka atau image

yang berguna adalah yang digunakan.  Terserak di muka bumi, atau mesti dicari di laut luas.

Yang tidak berguna adalah yang tidak digunakan.  Mungkin bersusah payah mendapatkannya di rimba raya.  Merindukan, menemukan di pekat malam.

Yang berguna adalah yang dimiliki. Dinikmati dan disyukuri!

 

 

 

275. Sebuah kenangan
Mengingatkan sesuatu yang perlu dikenang. Ketika sebuah kendaraan, memaksakan diri, dan mengirimkan kami ke rumah sakit!.  Terasa sakit! Terasa sakit, karena selalu beban hidup menghimpit!. Terasa sakit karena sang pengendara, pergi tanpa pamit!

Mengingatkan sesuatu yang perlu dikenang!.  Tanpa sakit! Karena waktu menghapuskan sakit, namun tak mampu menghapus kenangan: aku, dia dan dia.

 

 

 

276. My lecturers

Sungguh ia pria tampan, karena di pagi hari ia telah berdiri di muka kelas. Gaung suara menggelegar, menghentak hening dari setiap hati. Ucapannya memesona, anak muda pastilah terkesima

Ia demikian tampan, karena lentur bahasa dan tingginya makna! Ia selalu menginginkan perubahan dan menjadi bayang-bayang bagi waktu!.  Ia tak dapat kulupakan

Ia demikian tampan.  Kecerdasannya menajubkan. Keinginan berbagi demikian tinggi!. Aroma egaliternya, mengalir di jalur nadi!. Memancar ke seluruh tubuh.  Mulutnya egaliter; tangan dan kakinya demikian pula!.  Eksak!

Ia demikian tampan.  Karena mata air ide ada padanya!.  Karena ia demikian bersemangat meneguhkan norma.  karena menatap dirinya, sepenuhnya kumpulan ketekunan. Karena ia selalu berkata: Tuhanlah yang memiliki kemudahan!

Ia tak menginginkan karya menjadi sia-sia!. Semoga Tuhan, mendengar pula kata-katanya!

 

 

 

277. Perjalanan

Jika bertanya berapa panjang jalan yang telah kau lewati, maka kau jawab kau tak mampu mengukurnya!.  Karena setiap kali kau lewati jalan itu, kau sertakan juga bayang-bayang menemanimu.  Juga hatimu riuh rendah memenuhi sepanjang perjalanan

Jika bertanya berapa panjang jalan yang telah kau lewati, maka kau selalu menjawab sangat singkat!.  Karena tiba-tiba saja ia telah menjadi masa lalu, dan saat ini kau dalam perjalanan baru

Namun kau selalu juga mengatakan, perjalanan panjang. Hingga kau merasa tak perlu mengukurnya.  Kakimu berjalan, hatimu berjalan, waktu pun demikian.  Kau tak dapat lagi melihat titik awalmu.  Mungkin…, kau juga merasa tak berakhir….

Yang kau tahu adalah keniscayaan: engkau mestilah berjalan….!

 

 

 

278. multiplier

segerombolan  angin yang mengetuk pintu, adalah kumpulan ketiadaan!.  Tiba-tiba saja angin menyebarkan segar! Mungkin juga sebelum kita sempat mensyukurinya

sekawanan air yang menuntaskan dahaga, adalah kumpulan tetes! Dengan serta merta air membasuh kerongkongan dan membasahi jiwa.  Kegerahan hilang sebelum kita sempat menciptakan kegerahan lainnya

sebentuk senyum dari gadis kecil, adalah kumpulan jiwa! Meluruhkan rasa sakit dan kegetiran, menuangkan cangkir demi cangkir asa, menjadi lautan doa dan usaha.  Sebelum mencari makna bahagia, seorang ayah telah merasakannya!

Seorang pedagang kaki lima, menegakkan receh demi receh, dan aku termangu: telah menjadi tumpukan!.  Ia olesi dengan keringat, dan recehan itu beraroma semerbak!.  Mensyukuri dan menikmati

Dan demikian pula para penjahat.  Tak jemu menyuntikkan tuba!. Mencoleng sekeping-sekeping, hingga kepingan hati manusia, merasa terbagi dan memakluminya.

Semua adalah kumpulan: multiplier!

 

 

 

279. Lemon model

Seandainya ada campuran buah, dengan rasa manis dan asam; lalu termakanlah olehmu yang asam; maka akan berpendarlah rasa kecewa!.  Tak ingin lagi menikmatinya; kecuali dengan harga yang lebih murah! Tak dapat menjadi lebih murah, kecuali bertambah banyak buah yang asam….

: barang yang buruk menendang barang yang bagus!

Tetapi jika engkau mutiara, tentunya kilaumulah yang menyatakannya!. Dan kau tahu dimana mesti berada!

 

 

 

280. Ruhani

Ruhani seperti kelapa, terus berkembang dan berharap banyak yang mendapatkan manfaatnya.  Ruhani beranjak bersama usia, namun tubuh renta perlahan meninggalkannya.  Karenanya, ruhani kelak akan berjalan sendiri, setidaknya tak dapat berdansa dengan sang tubuh!.  Celakalah orang-orang yang memaksakan ruhaninya.  Celakalah yang tak dapat mengukur beban tubuhnya! celakalah yang mencari tantangan

Namun, adakah ruhani kita bermakna….? Ataukah kita diperdayakannya? Berasyik mabuk dalam dunia fana? Hhmm… mungkin berfatamorgana: jika saja kembali muda!

Tak akan dan tak pernah!.  Kayuh saja, sampan ruhani kita pada-Nya: semoga sampai!

 

 

Posted September 6, 2011 by saidkelana in Secangkir Koffee

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.