Koes Plus Bersaudara
Tersembunyilah waktu oleh mereka, tertahan dalam alunan indah. Sesaat ketika hari tiba, dan memulaikannya, sebuah nada pagi yang indah. Dia telah memulai lama, dan tak pernah mengakhirinya.
Aku mencari tahu, satu demi satu! Dan kukumpulkan kekaguman itu. Suatu anugerah yang disempurnakan, melalui talenta yang menjadi karya. Suatu kekayaan ruhani, penghiburan bagi manusia, selamanya
Terungkaplah kegembiraan, demikian pula duka lara. Tersajilah pengharapan, sebagaimana penyesalan. Tersempurnakanlah pujian, juga pemahaman akan kenistaan insani. Itulah bahasa hakiki; dia memilikinya
Dia menutup malam, dan menemani kelelahan. Dalam rebah menuju kelelapan, tersenandunglah doa suci. Dia telah menemani jauh, dan selalu: Koes +
Temanku
Kata yang bersahaj menerobos pintu hati manusia, ia miliki. Ia menatap dalam pejam, berbicara dalam diamnya dan menyampaikan senyuman. Ia menyentuh dan mengusap hatiku sepenuh hari. Sesaat sebelum senja tiba, ia menghentikan langkah waktu dan menitipkan satu bingkai: inilah figura kenangan, untukku, yang sempat kumiliki. Dia memberinya lebih dari hatinya, untuk disampaikan pada_Nya lewat aku. Tuhanku, Engkau tahu jasa temanku dalam hidupku!
Hujan Cinta
Senja memerah dan kopi panas, terhirup aromamu dan lembayung menggambarkan semua. Sehela nafas dalam dingin, terasa hannyat karena bayangmu. Terurai dan kembali padamu, demikianlah kiranya. Seperti pemabuk yang dahaga, mengais harapan dalam kelupaan dan sisa cinta yang tertuang, bersimbuh dalam lelah, berharap kata terakhir adalah do’a; hujanilah cinta, pada jendela senja, tempat aku menuang kopi, merajut wajahmu. Hujanilah….. hujanilah….
Pengejar Nyawa
Menderu diantara bis, memasokkan segala keberanian. Berpacu ketrampilan dan dalam satu helaan nafas, kengerian!. Seperti bermain di atas roda, ditemani pengab udara dan satu dua kisah ketragisan. Terus memacu sampai waktu menghentikannya!
