Hujan di terik hari
Kupahat Kau dalam bayangan, agar dapat kurasakan Kau dengan berlebihan. Ketika dahaga memanggil, kutuang harapan dengan segala gigil, kureguk dalam mabuk, bercumbu dalam bayangMu. Kuukir Dikau di atas air, dan arusnya menebarkan namaMu, sepanjang sungai, kuharap kubasuh wajah di situ, dan kuhirup aroma embun. Seterik ini hariku, sehujanlah kasihMu, kubawa hidup pada padang tandus, Kau beri oase di sudutnya. Biarlah kupahat dalam gumam, kubisikkan dalam diam, hidupku: hujan di terik hari!
Sang Pemberani
Ia berbicara dalam diam, menatap dalam pejam, dan melambungkan kata dengan perbuatan. Barisan seyumnya dipahat di sekujur tubuh, hingga setiap hal tersentuh kelembutan. Kulitnya dari baja, kakinya dari baja, tangannya juga, namun hatinya dari sutra. Matanya menyimpan air dengan jumlah tak hingga, dan mengalir menjadi sungai kasih sayang. Ia mengalahkan segala duka dan kesulitan, oleh tekad dan hatinya. Sungguh sang pemberani!
Ditaburi Cinta
Dapat kau rasakan bintang yang ditaburi cinta, cahaya benderang namun lembut, warnanya terang tak menyilaukan, menatapnya seperti cermin di tempat tinggi. Jika bintang pergi di pagi hari, ia melangkah pelan dan pasti, jejaknya masih disisakan di kepingan hati, disimpan dalam ruang yang kokoh, tersembunyi, dan dalam kesunyian menjadi sinar terang, seperti bintang!
Dapat kau rasakan ketika mentari ditaburi cinta, warnanya seperti pelangi, hingga kanvasmu sempurna. Oleh warna yang ada. Sekujur tubuhmu berbisik, bergetar pesona dan pancaran rasa seindah pancaran warna. Senja tak akan pernah tiba, harimu selalu baru saja dimulai!. Ditaburi cinta pada bulan, pada mentari, cahaya lembut dan warna-warni: sempurnalah!
